Bagaimana 2020 Mengajarkan Saya Lebih Menghargai Diri Saya Sendiri

Menurut saya, tidak ada hal yang benar-benar buruk pun begitu juga tidak ada yang benar-benar baik. Semuanya mempunyai lebih dari dua sisi untuk kita pahami. Sama seperti tahun 2020 yang dinobatkan menjadi tahun terburuk untuk manusia post-modern.  Saya pribadi menganggap 2020 adalah tahun yang tidak sangat buruk dan tidak juga sangat baik. Namun 2020, mengajarkan saya banyak hal. Terutama dalam hal menerima dan menjadi lebih dewasa. Dewasa di sini lebih seperti memikirkan semuanya matang-matang dan memprioritaskan diri sendiri. Memilih mana yang benar-benar penting dan mana yang lebih baik dipikirkan nanti. Terdengar membosankan memang. Namun menurut saya, itu adalah hal esensial yang semua orang harus tahu. 

Ketika menulis tulisan ini, saya jadi berpikir lebih jauh tentang apa yang telah saya lalui selama ini. Tentu saja, banyak mimpi-mimpi yang terbengkalai. Banyak juga harapan-harapan yang berubah menjadi asap dan kemudian hilang. Saya sama sekali tidak menyangka telah melewati hari-hari tersebut. Ditambah lagi dengan adanya perubahan gaya hidup yang membuat saya cenderung menutup diri saya lebih jauh. Namun, saya merasa saya telah berubah menjadi seseorang yang baru. 

Saya tidak pernah berpikir bisa menjadi diri saya yang saat ini. Berjalan dengan kepala ditegakkan walaupun masih dengan lapisan selimut yang saya rasa bisa melindungi saya. Saya jadi lebih bersyukur dan lebih merasa bahagia. 

Saya sadar bahwa selama ini diri saya yang lama merupakan sosok yang sangat kesepian. Duduk di depan jendela besar dan melihat dunia luar seakan nirvana yang tidak akan didapatkan. Sedangkan dulu, saya berada di dalam ruangan sangat gelap sehingga saya hanya bisa melongok ke jendela tanpa mau untuk keluar dari ruangan tersebut. 

Sekarang, saya merasa saya telah bergerak dari ruangan sangat gelap menuju ruangan yang lebih cerah. Perjalanan yang cukup panjang memang. Di ruangan remang tersebut saya menemukan diri saya, menemukan teman yang membantu saya untuk menyalakan lilin kecil yang memberikan pendar cahaya secukupnya. Walaupun pada akhirnya teman saya pergi mencari cahayanya sendiri, saya tidak mengapa. Saya akan terus berdoa untuknya. 

Saat ini juga saya ditemani oleh diri saya yang dulu, lewat bayangan yang dihasilkan oleh lilin kecil tersebut. Saya bohong kalau saya langsung bisa melupakan diri saya dan tidak mengenal diri saya yang dulu. Lantas saya akan membuatnya menjadi teman untuk mengingatkan saya jika saya terjatuh lagi. 

Saya harap 2020 tidak membuatmu kehilangan cahaya kamu sendiri. Malah membuatnya lebih terang dan kuat. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Zen dan Hal yang Bisa Dipelajari Selama Pandemi

Beras dan Kemanusiaan ala Jhumpa dan Gie

Membahas Pernikahan, Putus Cinta, Ego, dan Toksik Maskulinitas bersama Gala di Ganjil-Genap