Bagaimana 2020 Mengajarkan Saya Lebih Menghargai Diri Saya Sendiri

Menurut saya, tidak ada hal yang benar-benar buruk pun begitu juga tidak ada yang benar-benar baik. Semuanya mempunyai lebih dari dua sisi untuk kita pahami. Sama seperti tahun 2020 yang dinobatkan menjadi tahun terburuk untuk manusia post-modern.  Saya pribadi menganggap 2020 adalah tahun yang tidak sangat buruk dan tidak juga sangat baik. Namun 2020, mengajarkan saya banyak hal. Terutama dalam hal menerima dan menjadi lebih dewasa. Dewasa di sini lebih seperti memikirkan semuanya matang-matang dan memprioritaskan diri sendiri. Memilih mana yang benar-benar penting dan mana yang lebih baik dipikirkan nanti. Terdengar membosankan memang. Namun menurut saya, itu adalah hal esensial yang semua orang harus tahu. 
Ketika menulis tulisan ini, saya jadi berpikir lebih jauh tentang apa yang telah saya lalui selama ini. Tentu saja, banyak mimpi-mimpi yang terbengkalai. Banyak juga harapan-harapan yang berubah menjadi asap dan kemudian hilang. Saya sama sekali tidak menyangka telah melewati har…

Beras dan Kemanusiaan ala Jhumpa dan Gie




Beberapa orang mungkin hanya menganggap beras sebatas pangan yang harus dimakan demi menjaga perut tetap penuh. Mungkin juga beras hanyalah karbohidrat yang jahat bagi mereka yang diet mati-matian. Namun bagi Jhumpa Lahiri, beras memiliki arti lebih dari itu. Beras baginya telah menjelma sebagai simbol jati diri dari seorang imigran yang merasa tidak memiliki tempat. Beras juga menjadi bentuk kasih sayang seorang bapak kepada anaknya, sehangat sepiring nasi hangat yang selalu tersedia di meja makan. Hal ini lah yang membuat aku tergugah ketika membaca sebuah esai yang ditulis oleh Jhumpa Lahiri. 

Aku ingat betul kali pertama aku jatuh cinta pada tulisan Jhumpa Lahiri. Saat itu aku sedang bertanya-tanya tentang jalan hidup yang aku pilih. Mengapa aku masuk ke ilmu pangan dan mengapa pula aku bertahan di tempat ini. Saat itu dengan segala kegundah gulanaan yang aku alami, sebuah link melintas di lini masa twitter dan saat itulah aku membaca tulisan beliau untuk pertama kali Beras oleh Jhumpa Lahiri . Saat membaca itu aku tentunya menangis sesegukkan. Sebuah esai yang sangat sederhana namun memabukkan emosi. 

"My father, seventy-eight, is a methodical man. For thirty-nine years, he has had the same job, cataloguing books for a university library. He drinks two glasses of water first thing in the morning, walks for an hour every day, and devotes almost as much time, before bed, to flossing his teeth. “Winging it” is not a term that comes to mind in describing my father. When he’s driving to new places, he does not enjoy getting lost." - Jhumpa Lahiri, Rice

"Ayah saya, berumur 78 tahun, adalah orang yang sangat mengikuti aturan. Selama 39 tahun, dia mempunyai pekerjaan yang sama-merapikan buku untuk perpustakaan kampus. Setiap pagi, ia akan meminum dua gelas air putih, berjalan mengelilingi komplek satu jam dan melakukan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh. Sebelum tidur, ia membersihkan giginya. Ia tidak akan pernah akrab dengan prinsip "jalanin aja". Ketika ia pergi ke tempat baru, ia tidak suka tersesat." - Jhumpa Lahiri, Beras

Aku selalu membaca tulisan beliau berulang-ulang. Dan semua esai beliau membuatku berpikir, bagaimana caranya mencintai hal yang tidak aku cintai. Bagaimana memaknai ulang hal yang aku pikir tidak bermakna. Dari tulisan itu, Jhumpa Lahiri mengubahku. Mengubah cara pandangku melihat dunia dan memberikan arti lebih untuk makanan karena pada akhirnya makanan adalah salah satu cara untuk memanusiakan manusia.

Hal ini terus membawaku untuk membaca buku-buku lain dan mencari arti bagaimana menjadi manusia. Saat itulah aku bertemu dengan sosok Gie. Sosok yang sekarang jadi idola bahkan lebih dari bagaimana aku mengidolai boyband korea yang aku kira akan mencintai mereka mati-matian. 

Aku membaca majalah tempo yang mengulas Gie. Seorang yang sangat sederhana dan bertubuh kecil namun penuh dengan semangat membara serta memiliki kepribadian yang amat menyenangkan. Majalah tempo tersebut membuat perkenalanku dengan Gie berjalan mulus. Dari situ aku mulai terobsesi dengan Soe Hok Gie. Aku membaca bukunya dan makin jatuh cinta pada gagasannya untuk menyejahterakan manusia. Berani menentang yang salah dan membantu yang lemah. Gie membuatku berani untuk akhirnya berdiri pada kakiku sendiri. 

Satu pertanyaan yang terlintas saat itu, "Bagaimana caranya memulai dan menjadi berani?"  

Di dalam catatannya Gie berkata: 

Manusia dibentuk oleh ambisi mengenai masa depan, dibentuk oleh kenyataan-kenyataan kini, dan pengalaman-pengalaman masa lampau. Seorang pun tak dapat membebaskan dirinya dari masa lampau. Pengalaman-pengalaman pribadi memberi warna pada pandangan dan sikap hidup seorang untuk seterusnya" - Soe Hok Gie, Catatan Demonstran

Saat itu aku memulai perjalanan baruku. Menjadi orang yang baru dan berharap bahwa aku bisa membantu banyak orang. Ikut komunitas dan mulai melihat dari segala perspektif. Gie mengajarkan banyak hal terutama tentang bagaimana empati dan logika bisa menjadi harmoni yang menjaga dan memperlakukan manusia sebagaimana mestinya. 

Bagiku Jhumpa Lahiri dan Soe Hok Gie adalah sosok penulis yang mengubah hidupku. Mengubah prinsipku dan yang membuatku terus berusaha untuk menjadi lebih baik. Aku percaya bahwa tulisan yang mereka tulis berasal dari hati. Itulah alasan mengapa tulisan mereka begitu memiliki efek kepadaku. Terima kasih Jhumpa dan Gie yang telah mengajariku banyak hal. Terutama Gie, terima kasih Soe Hok Gie yang benar-benar memutar balikan hidupku. Terima kasih telah menyadarkanku banyak hal. Hingga aku menulis cerita ini, aku menangis. Aku menangis karena dalam menulis ia merasa sangat sendirian. Tapi Gie, tulisan-tulisanmu membuat aku merasa tidak sendirian. Semoga Allah selalu menjagamu di sana. Suatu saat nanti, aku berharap bisa mengunjungimu di Puncak Mahameru. 


*Tulisan ini diikut sertakan dalam one week one post bersama Warung Blogger dalam tema "Pengarang yang menginspirasi kehidupan kita"

Komentar

  1. widihhhhhhhhhh..... aku belum pernah baca tulisan Gie sampai saat ini. Tapi nonton film nya udah berulang kali

    aku penasaran euy sama Jhumpa Lairi. tapi sepertinya bacaannya terlalu berat. aku lagi ga berani dulu baca yang berat-berat saat ini. takut balik mikirin hal-hal berat

    BalasHapus
  2. Berat yaaa
    Aku tahu Soe Hok Gie, tapi belum pernah baca bukunya. Baca ini jadi mau juga nyari. Masih ditahap pencarian kehidupan nih

    BalasHapus
  3. Hemmmm.. merasa kepo aku ketika si mimin cerita tentang Riwayat Sie Ho Gie.
    Hanya ada pernah nonton Film nya saja yang diperankan oleh Nicolas Saputra..

    BalasHapus
  4. tulisan yang berasal dari hati katanya memang mampu membuat pembaca betah dengan tulisan kita. Coba kalau aku bisa menulis seperti mereka juga ya

    BalasHapus
  5. Gie atau So Ho Gie jaman masih kuliah emang idola banget neh Kak, dari dulu suka banget catatan-catatannya. Udah lihat filmnya?

    BalasHapus
  6. Kalau menemukan tulisan atau cerita yang menginspirasi seperti riwayat Sie Ho Gie ini, saya selalu senang membacanya berulang kali.

    BalasHapus
  7. Aku belum berjumpa dengan Jhumpa Lahiri namun berkat postingan ini akhirnya aku jadi tahu, selanjutnya aku mau baca tulisan2nya juga. Kalau Gie, aku mengenal melalui buku Catatan Seorang Demonstran yg pernah aku ulas di blog juga, buku yg rasa2nya ia sedang merasa sepi dan banyak bertanya mengenai kehidupan. Jaman dahulu juga kan nggak semudah dg adanya media sosial jadi rasa sepinya pasti brtubi2 karena merasa sendiri atau tak bs membaca atau mendengarkan lebih banyak pengalaman yg hampir serupa

    BalasHapus
  8. Banyak cara untuk menginspirasi, ya, dan Soe Hoek Gie salah satunya. Sosok yang berani bicara lantang menyuarakan keadaan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Zen dan Hal yang Bisa Dipelajari Selama Pandemi

Lost and Forgettable