Skip to main content

Memahami Kembali Cara Mengulas Jurnal yang Baik dan Cepat

cara menulis review :
 
Salah satu tugas yang paling sering dikasih dosen saat masa kuliah adalah “Review Jurnal” atau Review artikel ilmiah, buku dan lain sebagainya. Tugas yang jujur aja kadang bikin kesel ini, sebenarnya susah-susah gampang. Bayangin aja, minimum satu jurnal itu bisa terdiri dari 5 halaman. Terus kalo lagi nasibnya beruntung banget /uhuk/, satu jurnal bisa terdiri dari 27 halaman. Jurnal-jurnal tersebut harus direview dan dirangkum untuk bisa kurang dari 3 halaman. Man, turut berduka cita atas hilangnya waktu tidur yang sehat lol. Belum lagi, kadang mahasiswa gak tahu bagaimana cara mereview jurnal yang baik karena kita gapernah dikasih tahu caranya. Nah, untuk itu, aku coba untuk mengulas cara mereview jurnal yang baik dan cepat. Semoga membantu!

Review Jurnal

Kalau ada yang bingung tentang review jurnal, kayaknya kita harus mulai mendefinisikan kembali review jurnal yang ingin kita buat. Dan kali ini aku bakalan merujuk pada salah satu jurnal ilmiah yang membahas cara mereview jurnal dari Ömer Gülpınar dan  Adil Güçal Güçlü yang dipublikasikan pada Turkish Journal of Urology (How to write a review article, 2013).

Menurut mereka, review jurnal adalah bentuk tulisan yang mudah dibaca dan menyediakan informasi atas sebuah permasalahan (sintesa) dengan runut secara singkat. Biasanya, review jurnal ini dilakukan sebagai langkah awal sebelum melakukan penelitian. Nah, untuk tipenya sendiri, review jurnal terdiri dari dua tipe yaitu:

  • 1. Review Naratif

Review Naratif ini adalah bentuk ulasan yang mudah dan fun. Contohnya ya, tulisan ini. Walaupun begitu, bentuk ulasan haruslah tetap runut ya!

  •  2.Review Sistematis

Sedangkan untuk review sistematis, ulasan yang dibuat haruslah sangat detail dan komprehesif tergantung dengan topik yang diinginkan. Nah, tipe review ini dibagi lagi menjadi qualitative dan quantitative lho!

Key Element dari Review Jurnal


Secara garis besar, review jurnal harus mempunyai 3 bagian penting di dalamnya yaitu: Pertanyaan besar, Informasi yang diberikan (issues, cara menyelesaikan masalah, dll), dan bagaimana informasi tersebut berkorelasi dengan jurnal atau artikel lain yang telah tersedia.  Nah kalo mau lebih fancy lagi, ada cara yang lebih detail yaitu dengan PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses). Prima sendiri memiliki 27 poin untuk dijadikan guidelines dalam menulis review. Namun jika tidak diperlukan terlalu banyak detail dalam review kamu, maka kamu gak usah susah-susah memakai guidelines ini. Lakukan hanya yang diperlukan hahahaha. Jangan menyusahkan diri sendiri :””

Cara Mereview Jurnal


Untuk cara mereview jurnal sendiri, ada beberapa hal yang kamu harus lakukan. Dimulai dari:
1.       Siapkan pertanyaan yang ingin kamu bahas!

Awali review kamu dengan pertanyaan. Pertanyaan apa yang ingin kamu jawab. Contohnya: “Gimana sih cara menulis review yang baik?” atau “bagaimana N-Corona bisa menyebar?” atau bahkan “Bagaimana novel Pulang karya Leila S. Chudori merepresentasikan masalah HAM di tahun 1960?”

2.       Cari bahan yang mendukung dan menjawab pertanyaan kamu!

Nah, ini penting banget biar review kamu “legit” kamu harus memberi fakta-fakta pendukung serta bukti agar review kamu itu baik. 

3.       Analisis bagaimana jurnal-jurnal tersebut menjawab masalah kamu.

4.       Buat conclusion yang merangkum semuanya.



Menulis review itu agak rumit tapi bukan berarti kamu ga bisa menuliskannya dengan baik lho!

Iya, memang kadang menulis review itu agak menyebalkan. Tapi percaya deh, kamu hanya perlu menuliskannya dengan menjawab pertanyaan dengan cara yang esensial. Kalau kamu punya tips bikin review yang menarik, coba kasih tahu aku di kolom komentar bawah ini ya! Sampai bertemu di review jurnal lain selanjutnya.

Comments

  1. Hmm, berasa jd mahasiswa lagi baca ttg review jurnal ini. Perlu dicatat nih, kalau2 diperlukan saat S2 nanti.

    ReplyDelete

Post a comment

Popular posts from this blog

Membahas Pernikahan, Putus Cinta, Ego, dan Toksik Maskulinitas bersama Gala di Ganjil-Genap

Sejak menginjak usia dua puluh tahun, aku berpikir bahwa menikah adalah hal yang rumit. Bukan cuma berdasarkan finansial, namun juga kematangan mental dan lain sebagainya. Sebagai konstitusi pun, menikah juga sangat lemah. Hanya berdasarkan sistem kepercayaan yang dilindungi oleh sedikit undang-undang yang bahkan kini orang berusaha melemahkannya lebih jauh. Padahal di dalamnya banyak pihak yang turut andil. Sampai-sampai sekarang, perkataan “Pakai cinta aja gak cukup.” sudah merajalela
Lalu aku bertanya, apa sebenarnya arti pernikahan itu sendiri?
Jika mendengar dari cerita  Mamah dan Abi dulu, cinta adalah bumbu awal, penentu untuk memilih. Kemudian usaha dan realitas yang menjadi penahan untuk bersama. Malah kayaknya, percintaan orangtuaku gak seromantis itu. Eits, tentu saja pertanyaan “Kapan menikah?”, “Udah ada gandengannya belum?” pun udah mulai masuk ke kotak pertanyaan tahunan yang dilayangkan kepadaku. Tapi, sebagai jomblo menahun, aku hanya tertawa dan meminta didoakan yang t…

Belajar Bodo Amat Dengan Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Ada banyak buku self improvement di dunia ini, tapi kayaknya buku yang ngajarin kita untuk bodo amat tuh jarang. Makanya inilah alasan kenapa Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat sangat digandrungi pembaca dari berbagai elemen. Khususnya bagi mereka yang gak suka dinasehati sebagaimana buku pengembangan diri yang kuno. Buku dari Mark Manson ini bagaikan surga bagi sebagian orang yang mencari penjelasan kenapa akhir-akhir kita sering menggunakan sikap bodo Amat untuk kehidupan kedepannya.

Salah satu diskusi menarik yang saya ikuti beberapa pekan lalu adalah bedah buku sebuah seni untuk bersikap Bodo Amat. Bedah buku ini dengan narasumber Pak Indra Gunawan Masman, MBA yang berkecimpung di bidang buku dan dunia pengembangan diri. Salah satu notable note yang Siberian oleh Pak Indra adalah persepsi tentang kata "Bodo Amat" yang terdengar apatis sangatlah salah. Bodo Amat, di buku ini sarat akan kembali menentukan prioritas dan bersemangat dalam hidup.

Walaupun pada akhirnya disk…

LiterArt - Berseni Dengan Literasi Bersama Gramedia Matraman

Ada yang bilang kalau menulis atau membaca buku itu merupakan pekerjaan yang sangat kaku. Makanya, dengan seenak jidatnya, mereka mengecap orang-orang yang menyukai menulis atau buku adalah kutu buku. Dan gak jarang dari mereka terkurung dengan stigma yang terkucilkan dari hubungan sosialisasi masyarakat. Termasuk juga saya. Karena stigma itu, saya selalu dibilang orang yang serius dan tidak mengenal apa itu keindahan seni. huff, sial. Nyatanya, tulisan, prosa, puisi, esai, dan bahkan kritik merupakan salah satu bentuk seni. Jadi ya, salah besar kalo dibilang saya, atau kami, merupakan orang yang tidak berseni.

Potret inilah yang diambil dari festival LiterArt dari Gramedia Matraman. Toko buku yang telah berdiri, gak duduk ya, jauh sebelum saya lahir. LiterArt lahir dari keinginan Gramedia Matraman untuk menunjukan bahwa buku juga merupakan media seni. Dan pada acara ini, Gramedia Matraman menggabungkan festival literasi dengan bentuk seni lainnya seperti menari, lalu adanya bincang b…