Skip to main content

Belajar Bodo Amat Dengan Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat


Ada banyak buku self improvement di dunia ini, tapi kayaknya buku yang ngajarin kita untuk bodo amat tuh jarang. Makanya inilah alasan kenapa Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat sangat digandrungi pembaca dari berbagai elemen. Khususnya bagi mereka yang gak suka dinasehati sebagaimana buku pengembangan diri yang kuno. Buku dari Mark Manson ini bagaikan surga bagi sebagian orang yang mencari penjelasan kenapa akhir-akhir kita sering menggunakan sikap bodo Amat untuk kehidupan kedepannya.

Salah satu diskusi menarik yang saya ikuti beberapa pekan lalu adalah bedah buku sebuah seni untuk bersikap Bodo Amat. Bedah buku ini dengan narasumber Pak Indra Gunawan Masman, MBA yang berkecimpung di bidang buku dan dunia pengembangan diri. Salah satu notable note yang Siberian oleh Pak Indra adalah persepsi tentang kata "Bodo Amat" yang terdengar apatis sangatlah salah. Bodo Amat, di buku ini sarat akan kembali menentukan prioritas dan bersemangat dalam hidup.

Walaupun pada akhirnya diskusi buku ini menunjukan betapa berbedanya gaya pengembangan diri yang dibaca oleh kaum millenials dan generasi sebelumnya. Ya walaupun Baku di sini agak merasa keberatan dengan "milenial" yang tampak mendiskriditkan generasi seumuran aku. Karena pada dasarnya kami memilih untuk mencoba menentukan diri kami sendiri tanpa adanya tuntutan ekspektasi dari orang banyak.

Hal inilah yang sejatinya dibahas dari Buku Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Salah satu perkataan Mark Manson yang paling Aku suka adalah prinsip tentang "Bahagia itu adalah masalah, dan kehidupan itu adalah rangskalan masalah-masalah". Sebagaimana yang kita tahu, kita suka sekali kesal ketika masalah menghampiri. Seakan-akan semua masalah adalah masalah yang berat. Namun nyatanya memang begitu. Sebuah masalah memanglah masalah berat. Bisa jadikan, masalah yang berat untuk dia bukan masala berat untukmu. Jadi ya, lupakan masalah orang lain dan fokus ke maalah diarium sendiri.

Ada banyak hal lain yang Menurut Aku patut untuk dibicarakan tentang buku ini. Salah satiny bagaimana Mark Manson mencoba mendobrak pasar buku pengembangan diri dengan sikapnya yang cenderung kuat. Kuat dan berbeda jika aku bisa berkata. Hal ini juga terlihat dengan penggunakan judul serta prinsip buku ini. Tidak hanya berhasil di pangsa buku amerika saja, Mark Manson juga berhasil mendobrak pangsa buku pengembangan diri di Indonesia. Hal ini tentu saja sangat menarik untuk dilihat. Pasalnya, pangsa buku Indonesia masih terikat pada dogma dan normatif yang amat-termat mandarah daging. Jadi, mungkin ini adalah tanda dari pergeseran budaya baru di Indonesia? Gak ada yang Tahu sih. Tapi ya, selamat membaca bukuny!

Comments

  1. Ada ya... wahpasti banyak yang merasa bertolak belakang dengan sikap ini. Tapi justru konteks seperti ini jadi menarik untuk dibaca. PAsti ada pemahaman yang tersurat dan perlu didalami sih ya. Bukunya sudah ada dimana mana kan ya kak? mau nyari

    ReplyDelete
  2. Bener-bener deh buku ini laris banget sampai bajakannya banyak juga. Seni bodo amat menurutku juga skill di era sekarang jadi some points di buku ini aku setuju wkwkw, cuman yang perlu digarisbawahi adalah manusia perlu merasakan prosesnya juga--dengan adanya buku ini jadi lebih aware aja sih, selain itu jadi nggak perlu masang ekspetasi yang terlalu tinggi.

    ReplyDelete
  3. Eh aku penasaran banhet sih sama buku ini, kumau belajar juga punya skill bodo amatan di ajamn sekarang yg serba wow hihi

    ReplyDelete
  4. Iya, lebih baik fokus pada masalah diri sendiri. Tapi aku lebih suka menyebutnya sebagai tantangan. AGar lebih enak saat menghadapinya. Kalau mikir masalah, rasanya kok berat dan malesi, gitu. Kalau tantangan kan jadi lebih semangat menghadapi karena berharap ada reward berupa naik level. Padahal makin tinggi level, masalah/tantangan jadi makin berat. wkwkwkwk. Tapi aku setuju dan ikut merekomendasikan buku Seni Bersikap Bodoh Amat.

    ReplyDelete
  5. Sudah lama nggak baca buku self inprovement kayak gini, dan sedang butuh karena sebagai ibu sangat penting nih bersikap bodo amat karena banyaknya tekanan dan tuntutan pada peran sebagai ibu

    ReplyDelete
  6. Penasaran dengan isi lengkap dari buku ini, jujur saya sangat mendukung mengenai sikap Bodo Amat ini, karena bisa membuat kita lebih move on dari kritikan yang nyinyir tanpa ada masukan positif.

    ReplyDelete
  7. Dari kavernya aja udah bodo amat ya sama seni-seni kaver buku pada umumnya. Haha. Rasanya emang wajar sih banyak yang tertarik sama buku ini. Out of the box sih dari judul dan kavernya aja. Bikin orang penasaran. Termasuk aku :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

LiterArt - Berseni Dengan Literasi Bersama Gramedia Matraman

Ada yang bilang kalau menulis atau membaca buku itu merupakan pekerjaan yang sangat kaku. Makanya, dengan seenak jidatnya, mereka mengecap orang-orang yang menyukai menulis atau buku adalah kutu buku. Dan gak jarang dari mereka terkurung dengan stigma yang terkucilkan dari hubungan sosialisasi masyarakat. Termasuk juga saya. Karena stigma itu, saya selalu dibilang orang yang serius dan tidak mengenal apa itu keindahan seni. huff, sial. Nyatanya, tulisan, prosa, puisi, esai, dan bahkan kritik merupakan salah satu bentuk seni. Jadi ya, salah besar kalo dibilang saya, atau kami, merupakan orang yang tidak berseni.

Potret inilah yang diambil dari festival LiterArt dari Gramedia Matraman. Toko buku yang telah berdiri, gak duduk ya, jauh sebelum saya lahir. LiterArt lahir dari keinginan Gramedia Matraman untuk menunjukan bahwa buku juga merupakan media seni. Dan pada acara ini, Gramedia Matraman menggabungkan festival literasi dengan bentuk seni lainnya seperti menari, lalu adanya bincang b…

Tak Apa Menjadi Bukan Siapa-Siapa

Tak Apa Menjadi Bukan Siapa-siapa Satu hal yang saya sadari tatkala sebuah dimsum ayam dengan saus pedas yang agak sedikit encer memasuki mulut saya adalah tak apa menjadi bukan siapa-siapa. Saat itu saya menahan air mata untuk tidak berjatuhan. Saya tidak ingin orang-orang melihat sisi saya yang lemah ini.



Satu hal yang saya sadari tatkala sebuah dimsum ayam dengan saus pedas yang agak sedikit encer memasuki mulut saya adalah tak apa menjadi bukan siapa-siapa. Saat itu saya menahan air mata untuk tidak berjatuhan. Saya tidak ingin orang-orang melihat sisi saya yang lemah ini. Saya harus terlihat kuat, atau setidaknya, begitu yang dikatakan oleh orang tua saya. Namun uluran tissue yang diberikan senior saya memecah dinding yang selama ini saya buat. Kata-katanya menusuk hati saya, dan akhirnya membuat saya menjadi manusia kembali. Sambil menepuk pundak saya secara perlahan, mereka memberi saya kehangatan dan tempat aman bagi saya. “Keluarin aja, Mips, jangan ditahan biar tenang semuany…