Ketika Orang Lain Kecewa Padamu

Gambar
Pada setiap persimpangan jalan hidup, pasti kita bersinggungan dengan orang lain. Pun begitu pula dengan apa yang kita lakukan, juga pasti akan berpengaruh pada kehidupan orang lain. Aku jadi ingat sebuah buku berjudul The Five People You Meet in Heaven karya Mitch Albom yang aku baca lima tahun yang lalu. Buku tersebut memberikan cuplikan tentang bagaimana apa yang kita lakukan bisa memiliki efek yang besar pada hidup seseorang. Pendeknya seperti domino effect. Makin ke sini, makin aku berpikir bahwa apa yang diceritakan oleh Mitch Albom memang sangat masuk akal. Seperti domino-domino itu, hidup kita terlihat kekar namun juga ringkih terhadap satu jentikan jari.
Lalu bagaimana ketika orang lain berkata padamu bahwa ia kecewa pada dirimu?
Hal-hal yang harus kamu lakukan ketika orang lain kecewa padamu
Pertama, tarik napas dalam-dalam.Mengatur napas dengan baik bisa membuat pikiran kita lebih jernih. Apalagi ketika kata-kata itu menusuk dirimu secara tiba-tiba. Kamu pasti merasa duniamu s…

Wiji Thukul : Istirahatlah Kata-Kata.


Ketika pertamakali mengetahui bahwa akan ditayangkan sebuah film biografi Wiji Thukul, gue sangat excited sekali. Pasalnya gue ingin tahu sebenarnya siapa sih Wiji Thukul, apa yang ia lakukan sehingga ia harus berada dalam pelarian. Jujur, gue itu cuma tahu sekilas-duakilas tentang Wiji Thukul. Terlebih lagi gue tidak aware sama masalah beginian. Gue cuma tahu dia dari beberapa puisi yang pernah gue baca. Ditambah gue tidak terlalu paham tentang puisi. Jadi ya, jangan menaruh ekspektasi terlalu tinggi dengan review gue ini.

Saat menonton film ini gue sangat teramat menaruh ekspektasi yang tinggi dengan film ini. Dengan semangat yang menggebu-gebu, gue berharap semua yang gue tanyakan tentang Wiji Thukul bisa terjawabkan di sini. Setelah filmnya dimulai, gue langsung terkesima dengan opening film tersebut. Dimulai dengan suara siulan seorang perempuan yang saat itu gue belum tahu itu suara siapa, menyenandungkan sebuah lagu yang terasa amat syahdu dan familiar ditelinga gue. Lalu munculah sesosok pria, ya dia adalah sosok Wiji Thukul yang diperankan oleh Gunawan Maryanto. 

Perjalanan Wiji Thukul pun dimulai, dia berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain mencari tempat yang aman untuk berlindung. Sedang dalam masa pelarian, pendeknya. Sayangnya pada bagian-bagian ini, tidak ada jawaban dari pertanyaan yang diutarakan orang awam seperti "Siapa itu Wiji Thukul?" "Kenapa dia harus menjalani pelarian?" Satu-satunya hal yang sedikit menjelaskan apa yang terjadi adalah suara berita dari radio yang menjelaskan peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 dan apa itu Partai Rakyat Demokratik. Namun penjelasan tersebut menurut gue gak menjelaskan apa peran Wiji Thukul pada kerusuhan tersebut. 

Berdurasi 90 menit, film ini sukses membuat gue merasakan betapa depresinya seorang buronan dalam masa pelariannya. Gue bisa mengenal sisi lain dari Wiji Thukul dari film ini. Bagaimana ketakutannya Wiji Thukul dalam masa-masa pelariannya. Bahkan udah gak keitung lagi sudah berapa malam dia tidak tidur. Gue sebagai penonton pun seperti merasakan apa yang dia rasakan. Dalam sekejap gue merasakan gelisah, sepi, dan khawatir. Dan ternyata, hal inilah yang ditawarkan oleh film garapan Anggi Noen. Temannya adalah sepi dan gelisah, rindu adalah nafasnya, dan musuhnya adalah tenang.

Namun gue harus mengatakan bahwa film ini agak membosankan dengan apa yang mereka sebut Quiet Scene. Memang film ini disuguhkan dengan minimnya dialog antar tokoh. Tapi terkadang membuat gue bosan dan malah berkali-kali mengalihkan pandangan gue untuk mengecek ponsel gue sendiri. 
C : here
Bagian-bagian lain yang menurut gue penting sekali untuk diberi penjelasan adalah tentang Thomas dan Martin. Kedua sahabat Wiji Thukul ini juga menjadi salah satu subplot cerita yang gue penasaran sebenarnya mereka itu siapa. Dari yang gue pahami, mereka juga merupakan aktivis sama seperti Wiji Thukul. Lalu saat-saat Wiji Thukul bertemu dengan Martin pun hanya dijelaskan saat mereka bersama-sama naik kapal keliling sungai Kapuas. Setelah itu Wiji Thukul yang kini telah mendapatkan nama baru sebagai Paul telah berpindah tempat tinggal ke rumah Martin. Selepas dari itu, gue sangat bahagia melihat bagaimana persahabatan antara Martin, Thomas, dan Wiji Thukul tercipta. Bagaimana Thomas membantu Wiji Thukul sebisa mungkin sampai-sampai membeli tuak untuk membantunya tidur, dan bagaimana Martin menemaninya menemukan dirinya yang baru. 

Bagian favorit gue adalah bagian di mana Wiji Thukul bertemu Udi, menulis puisi sebelum akhirnya tertidur di tangga, dan bertemu salah seorang tentara di tempat potong rambut. Saat bertemu Udi, gue merasakan bagaimana rasa takut dikenalinya Wiji Thukul. Ketika dia terus menerus menulis tanpa berhenti walaupun dalam keadaan terburuk,  membuat gue harus gigit lidah gue sendiri karena selalu mengeluh jika sedang menulis atapun belajar. Dan yang paling epik adalah ketika Wiji Thukul bertemu dengan tentara di tempat potong rambut. Sumpah, gue mengira Wiji Thukul akan dikenali dan akhirnya diberingus, ternyata disaat-saat itulah dia menemukan dirinya sendiri. Dia yang menyingkirkan rasa takutnya dan mulai menggenggam kembali semangatnya. Oh iya, gue juga kaget pas bagian Wiji Thukul nge-mention beberapa tokoh politik dan gue jadi penasaran apa relasinya mereka gitu.

c : here

Sosok Sipon yang menjadi pendamping Wiji Thukul juga ditonjolkan sangat kuat. Seorang perempuan yang mendukung apapun yang dilakukan suaminya, mandiri, tidak takut dan menyayangi anak-anaknya. Gue mengangumi sosok Sipon. Selain itu, sosok pria yang tinggal di dekat rumah tinggal Sipon itu awalnya gue kira semacam intel ternyata bukan. Alhamdulillah.

Ending dari film ini juga bisa dibilang amat teramat sederhana sampai-sampai gue tidak menyadari bahwa film ini sudah selesai. Sumpah. Tapi ya, semua itu terbayarkan dengan lagu yang menjadi soundtrack film ini. Setelah menonton film ini, gue sedikit kecewa dengan apa yang disuguhkan film ini. Bahkan sebelum gue memutuskan untuk menonton film ini, gue banyak direkomendasikan untuk menonton film ini. Bahkan tak sedikit yang mengatakan bahwa film ini bagus sekali. Padahal gue berharap film ini menjadi film semua orang. Tidak cuma untuk mereka yang memang mengetahui siapa itu Wiji Thukul. Film ini juga punya potensi tinggi untuk memperkenalkan kepada orang-orang tentang apa yang terjadi di tahun 1996, bagaimana kehidupan mereka yang dianggap buronan, dan yang paling penting memperkenalkan siapa itu Wiji Thukul. Namun saran gue sih, coba aja tonton filmnya. Worth it kok! Gue juga berharap dengan adanya film ini, kita bisa mengambil benang merah untuk terus bersatu dan tidak ada lagi kejadian yang seperti ini. 
c: here

ps : Setelah menonton film ini gue jadi lebih menikmati puisi-puisinya. Bahkan gue mulai merangkai beberapa kata menjadi puisi #halah. Ehehehe. 

Komentar

  1. Hueeee gue belon sempet nonton ini :"(

    Moga as good as ppl said...

    BalasHapus
  2. Hai, Mips....wkwkwkwkwkwk

    Mungkin sedikit ralat ya dari aku, ini film 'biografi' ya, bukan 'autobiografi' kayak yang Emips ulas di atas. Mungkin bisa dikulik dari dua perbedaan kata itu apa di KBBI atau Mbah Gugel. Atau, mungkin lain kali bisa ditulisa sebagai film 'biopik' aja semisal ada film serupa yang bakal diulas.

    Seperti biasa, aku suka cara Emips bercerita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Kak Yas atas ralatnya. Kuakan berusaha lebih baik di post-post mendatang. Ehehehe Makasih!

      Hapus
  3. mantap nih reviewnya,, saya belum ada waktu wat nontonnya

    uhh cedih cekaliiii

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Zen dan Hal yang Bisa Dipelajari Selama Pandemi

Lost and Forgettable

An Odd Superstition