Postingan

Bagaimana 2020 Mengajarkan Saya Lebih Menghargai Diri Saya Sendiri

Menurut saya, tidak ada hal yang benar-benar buruk pun begitu juga tidak ada yang benar-benar baik. Semuanya mempunyai lebih dari dua sisi untuk kita pahami. Sama seperti tahun 2020 yang dinobatkan menjadi tahun terburuk untuk manusia post-modern .  Saya pribadi menganggap 2020 adalah tahun yang tidak sangat buruk dan tidak juga sangat baik. Namun 2020, mengajarkan saya banyak hal. Terutama dalam hal menerima dan menjadi lebih dewasa. Dewasa di sini lebih seperti memikirkan semuanya matang-matang dan memprioritaskan diri sendiri. Memilih mana yang benar-benar penting dan mana yang lebih baik dipikirkan nanti. Terdengar membosankan memang. Namun menurut saya, itu adalah hal esensial yang semua orang harus tahu.  Ketika menulis tulisan ini, saya jadi berpikir lebih jauh tentang apa yang telah saya lalui selama ini. Tentu saja, banyak mimpi-mimpi yang terbengkalai. Banyak juga harapan-harapan yang berubah menjadi asap dan kemudian hilang. Saya sama sekali tidak menyangka telah melewati ha

Hidup Zen dan Hal yang Bisa Dipelajari Selama Pandemi

Gambar
Bagaimana Pandemi Mengobrak-abrik Mental kita?      Bisa dibilang pandemi ini membuat kita memahami banyak hal. Termasuk tentang bagaimana kita melihat diri kita sendiri dan dunia. Beberapa orang mempunyai cara untuk menghadapi pandemi ini dengan berlomba-lomba untuk menjadi produktif dengan mengambil keahlian dan hobi tertentu. Atau bahkan berusaha untuk tidak terlihat 'kenapa-kenapa', padahal mereka tahu betul bahwa pandemi ini memiliki efek yang berat bagi diri mereka sendiri. Beberapa orang yang lain lagi berusaha untuk 'keep up' dengan kenyataan yang ada melewati hari dengan berdiam diri atau berusaha menyenangkan diri sendiri dengan hal-hal yang mereka anggap receh. Dan segelintir orang lainnya, terpuruk di pojok kamar, mengais hati yang telah hancur berkeping-keping. Namun satu hal yang pasti: "Kamu gak sendirian."  

Membahas Pernikahan, Putus Cinta, Ego, dan Toksik Maskulinitas bersama Gala di Ganjil-Genap

Gambar
Template by Freepik , Edited by Heymiftah Sejak menginjak usia dua puluh tahun, aku berpikir bahwa menikah adalah hal yang rumit. Bukan cuma berdasarkan finansial, namun juga kematangan mental dan lain sebagainya. Sebagai konstitusi pun, menikah juga sangat lemah. Hanya berdasarkan sistem kepercayaan yang dilindungi oleh sedikit undang-undang yang bahkan kini orang berusaha melemahkannya lebih jauh. Padahal di dalamnya banyak pihak yang turut andil. Sampai-sampai sekarang, perkataan “ Pakai cinta aja gak cukup. ” sudah merajalela Lalu aku bertanya, apa sebenarnya arti pernikahan itu sendiri? Jika mendengar dari cerita  Mamah dan Abi dulu, cinta adalah bumbu awal, penentu untuk memilih. Kemudian usaha dan realitas yang menjadi penahan untuk bersama. Malah kayaknya, percintaan orangtuaku gak seromantis itu. Eits, tentu saja pertanyaan “Kapan menikah?”, “Udah ada gandengannya belum?” pun udah mulai masuk ke kotak pertanyaan tahunan yang dilayangkan kepadaku. Tapi, sebagai jomblo menahun,

Memahami Kembali Cara Mengulas Jurnal yang Baik dan Cepat

Gambar
cara menulis review :   School photo created by drobotdean - www.freepik.com   Salah satu tugas yang paling sering dikasih dosen saat masa kuliah adalah “Review Jurnal” atau Review artikel ilmiah, buku dan lain sebagainya. Tugas yang jujur aja kadang bikin kesel ini, sebenarnya susah-susah gampang. Bayangin aja, minimum satu jurnal itu bisa terdiri dari 5 halaman. Terus kalo lagi nasibnya beruntung banget /uhuk/, satu jurnal bisa terdiri dari 27 halaman. Jurnal-jurnal tersebut harus direview dan dirangkum untuk bisa kurang dari 3 halaman. Man, turut berduka cita atas hilangnya waktu tidur yang sehat lol. Belum lagi, kadang mahasiswa gak tahu bagaimana cara mereview jurnal yang baik karena kita gapernah dikasih tahu caranya. Nah, untuk itu, aku coba untuk mengulas cara mereview jurnal yang baik dan cepat. Semoga membantu! Review Jurnal Kalau ada yang bingung tentang review jurnal, kayaknya kita harus mulai mendefinisikan kembali review jurnal yang ingin kita buat. Dan kali ini aku baka

Belajar Bodo Amat Dengan Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Gambar
Ada banyak buku self improvement di dunia ini, tapi kayaknya buku yang ngajarin kita untuk bodo amat tuh jarang. Makanya inilah alasan kenapa Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat sangat digandrungi pembaca dari berbagai elemen. Khususnya bagi mereka yang gak suka dinasehati sebagaimana buku pengembangan diri yang kuno. Buku dari Mark Manson ini bagaikan surga bagi sebagian orang yang mencari penjelasan kenapa akhir-akhir kita sering menggunakan sikap bodo Amat untuk kehidupan kedepannya. Salah satu diskusi menarik yang saya ikuti beberapa pekan lalu adalah bedah buku sebuah seni untuk bersikap Bodo Amat. Bedah buku ini dengan narasumber Pak Indra Gunawan Masman, MBA yang berkecimpung di bidang buku dan dunia pengembangan diri. Salah satu notable note yang Siberian oleh Pak Indra adalah persepsi tentang kata "Bodo Amat" yang terdengar apatis sangatlah salah. Bodo Amat, di buku ini sarat akan kembali menentukan prioritas dan bersemangat dalam hidup. Walaupun pada akhirn

LiterArt - Berseni Dengan Literasi Bersama Gramedia Matraman

Gambar
Ada yang bilang kalau menulis atau membaca buku itu merupakan pekerjaan yang sangat kaku. Makanya, dengan seenak jidatnya, mereka mengecap orang-orang yang menyukai menulis atau buku adalah kutu buku. Dan gak jarang dari mereka terkurung dengan stigma yang terkucilkan dari hubungan sosialisasi masyarakat. Termasuk juga saya. Karena stigma itu, saya selalu dibilang orang yang serius dan tidak mengenal apa itu keindahan seni. huff, sial. Nyatanya, tulisan, prosa, puisi, esai, dan bahkan kritik merupakan salah satu bentuk seni. Jadi ya, salah besar kalo dibilang saya, atau kami, merupakan orang yang tidak berseni. Potret inilah yang diambil dari festival LiterArt dari Gramedia Matraman. Toko buku yang telah berdiri, gak duduk ya , jauh sebelum saya lahir. LiterArt lahir dari keinginan Gramedia Matraman untuk menunjukan bahwa buku juga merupakan media seni. Dan pada acara ini, Gramedia Matraman menggabungkan festival literasi dengan bentuk seni lainnya seperti menari, lalu adanya bincang b

Perihal Menjadi Cahaya Ala Grasindo & Leson.id

Gambar
Ada banyak cara untuk menjadi cahaya. Salah satu adalah dengan menubrukkan kegelapan dengan cahaya itu sendiri. Dan itulah yang dilakukan oleh Grasindo. Grasindo berusaha sebisa mungkin untuk menjadi cahaya disaat dunia sedang kebingungan dengan kegelapannya sendiri. Kali ini cara grasindo untuk menjadi cahaya adalah dengan terus melakukan inovasi. "Passionately Innovating," katanya. Di tahunnya yang ke 29 tahun, Grasindo memilih untuk fokus mengabdi pada edukasi dan pendidikan. Saya tentu saja terkesima dengan inovasi terbaru dari Grasindo ini. Ya, di era digital ini semua orang telah berlomba-lomba membuat akses edukasi menjadi sangat teramat muda. Dan di sinilah Grasindo berusaha menjadi pionir dalam mendigitalisasi buku pelajaran dari bidang penerbitan. Sekarang-kan jamannya sudah Creative destructive . Ya, gak salah sih sebagai penerbit  Grasindo mencoba melebarkan sayapnya menggaet start-up edu-tech untuk merumuskan LKS jadi site ini. Layanan berbasis website ini seben

DIY: Budget Bibimbap for a Sad Day

Gambar
Apakah lo pernah mengalami keadaan saat lo baru menyadari semua ini merupakan salah lo, dan lo-lah sumber masalahnya? Atau lo merasa kecewa dan sakit hati atas sesuatu? Tenang, gue bersama lo kok. Gue baru aja mengalami hal itu. Perasaan tidak enak yang membuat lo jahat kepada diri lo sendiri. Perasaan yang membuat lo benci atau bahkan merasa bahwa lo pantas diperlakukan lebih buruk daripada itu.  Kenyataannya adalah gak ada yang salah dengan perasaan yang lo rasakan. Akan tetapi, kita gak boleh berlarut-larut terpuruk dalam keadaan yang sama. Lantas apakah lo harus langsung bangkit? Enggak, take your time. Jangan dengerin apa kata orang tentang apa yang lo alami. Pelan-pelan. Gue tahu betul, perasaan seperti itu sangat sakit. Lo tahu diri lo, lebih dari orang-orang disekitar lo tahu tentang lo. Kalau memang lo pikir, lo gak bisa kontrol. Gue mohon dengan sangat, carilah pertolongan. Carilah pertolongan professional. Jangan pernah meremehkan hal-hal seperti ini. You deserve t