Postingan

Peti Mati Untuk Empati Dari Pandemi

Gambar
Satu hal yang pertama kali tumbang ketika pandemi COVID-19 melanda Indonesia adalah empati.  Semua ini bermula ketika adanya prediksi dari para ahli bahwa Indonesia tidak akan luput dari momok virus Corona. Namun para petinggi, memilih untuk menutup mata dan menganggap bahwa masyarakat Indonesia begitu sakti sehingga tak ada virus, satu pun yang berani menginfeksinya. Bahkan, beberapa daerah mengajak turis untuk datang ke daerah tersebut tanpa pengetahuan dan penanganan infeksi menular yang cukup. Saat itu, egoisitas pemuka tinggi negeri ini dan masyarakat mengalahkan apa yang kita sebut logika dan hati nurani.Kemudian ketika pasien 0 terdeteksi, orang-orang kehilangan akal dan berbondong-bondong berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Egoisitas kembali muncul dan menjelma menjadi satu landasan kokoh untuk menjustifikasi pilihannya untuk menyelamatkan diri. Sebenarnya, tak ada yang salah dari menyelamatkan diri sendiri. Hal yang salah adalah ketika aksi menyelamatan diri itu merugikan…

Membahas Pernikahan, Putus Cinta, Ego, dan Toksik Maskulinitas bersama Gala di Ganjil-Genap

Gambar
Sejak menginjak usia dua puluh tahun, aku berpikir bahwa menikah adalah hal yang rumit. Bukan cuma berdasarkan finansial, namun juga kematangan mental dan lain sebagainya. Sebagai konstitusi pun, menikah juga sangat lemah. Hanya berdasarkan sistem kepercayaan yang dilindungi oleh sedikit undang-undang yang bahkan kini orang berusaha melemahkannya lebih jauh. Padahal di dalamnya banyak pihak yang turut andil. Sampai-sampai sekarang, perkataan “Pakai cinta aja gak cukup.” sudah merajalela
Lalu aku bertanya, apa sebenarnya arti pernikahan itu sendiri?
Jika mendengar dari cerita  Mamah dan Abi dulu, cinta adalah bumbu awal, penentu untuk memilih. Kemudian usaha dan realitas yang menjadi penahan untuk bersama. Malah kayaknya, percintaan orangtuaku gak seromantis itu. Eits, tentu saja pertanyaan “Kapan menikah?”, “Udah ada gandengannya belum?” pun udah mulai masuk ke kotak pertanyaan tahunan yang dilayangkan kepadaku. Tapi, sebagai jomblo menahun, aku hanya tertawa dan meminta didoakan yang t…

Memahami Kembali Cara Mengulas Jurnal yang Baik dan Cepat

Gambar
School photo created by drobotdean - www.freepik.com
Salah satu tugas yang paling sering dikasih dosen saat masa kuliah adalah “Review Jurnal” atau Review artikel ilmiah, buku dan lain sebagainya. Tugas yang jujur aja kadang bikin kesel ini, sebenarnya susah-susah gampang. Bayangin aja, minimum satu jurnal itu bisa terdiri dari 5 halaman. Terus kalo lagi nasibnya beruntung banget /uhuk/, satu jurnal bisa terdiri dari 27 halaman. Jurnal-jurnal tersebut harus direview dan dirangkum untuk bisa kurang dari 3 halaman. Man, turut berduka cita atas hilangnya waktu tidur yang sehat lol. Belum lagi, kadang mahasiswa gak tahu bagaimana cara mereview jurnal yang baik karena kita gapernah dikasih tahu caranya. Nah, untuk itu, aku coba untuk mengulas cara mereview jurnal yang baik dan cepat. Semoga membantu!

Review JurnalKalau ada yang bingung tentang review jurnal, kayaknya kita harus mulai mendefinisikan kembali review jurnal yang ingin kita buat. Dan kali ini aku bakalan merujuk pada salah satu j…

Belajar Bodo Amat Dengan Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat

Gambar
Ada banyak buku self improvement di dunia ini, tapi kayaknya buku yang ngajarin kita untuk bodo amat tuh jarang. Makanya inilah alasan kenapa Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat sangat digandrungi pembaca dari berbagai elemen. Khususnya bagi mereka yang gak suka dinasehati sebagaimana buku pengembangan diri yang kuno. Buku dari Mark Manson ini bagaikan surga bagi sebagian orang yang mencari penjelasan kenapa akhir-akhir kita sering menggunakan sikap bodo Amat untuk kehidupan kedepannya.

Salah satu diskusi menarik yang saya ikuti beberapa pekan lalu adalah bedah buku sebuah seni untuk bersikap Bodo Amat. Bedah buku ini dengan narasumber Pak Indra Gunawan Masman, MBA yang berkecimpung di bidang buku dan dunia pengembangan diri. Salah satu notable note yang Siberian oleh Pak Indra adalah persepsi tentang kata "Bodo Amat" yang terdengar apatis sangatlah salah. Bodo Amat, di buku ini sarat akan kembali menentukan prioritas dan bersemangat dalam hidup.

Walaupun pada akhirnya diskus…

LiterArt - Berseni Dengan Literasi Bersama Gramedia Matraman

Gambar
Ada yang bilang kalau menulis atau membaca buku itu merupakan pekerjaan yang sangat kaku. Makanya, dengan seenak jidatnya, mereka mengecap orang-orang yang menyukai menulis atau buku adalah kutu buku. Dan gak jarang dari mereka terkurung dengan stigma yang terkucilkan dari hubungan sosialisasi masyarakat. Termasuk juga saya. Karena stigma itu, saya selalu dibilang orang yang serius dan tidak mengenal apa itu keindahan seni. huff, sial. Nyatanya, tulisan, prosa, puisi, esai, dan bahkan kritik merupakan salah satu bentuk seni. Jadi ya, salah besar kalo dibilang saya, atau kami, merupakan orang yang tidak berseni.

Potret inilah yang diambil dari festival LiterArt dari Gramedia Matraman. Toko buku yang telah berdiri, gak duduk ya, jauh sebelum saya lahir. LiterArt lahir dari keinginan Gramedia Matraman untuk menunjukan bahwa buku juga merupakan media seni. Dan pada acara ini, Gramedia Matraman menggabungkan festival literasi dengan bentuk seni lainnya seperti menari, lalu adanya bincang be…

Perihal Menjadi Cahaya Ala Grasindo & Leson.id

Gambar
Ada banyak cara untuk menjadi cahaya. Salah satu adalah dengan menubrukkan kegelapan dengan cahaya itu sendiri. Dan itulah yang dilakukan oleh Grasindo. Grasindo berusaha sebisa mungkin untuk menjadi cahaya disaat dunia sedang kebingungan dengan kegelapannya sendiri.

Kali ini cara grasindo untuk menjadi cahaya adalah dengan terus melakukan inovasi. "Passionately Innovating," katanya. Di tahunnya yang ke 29 tahun, Grasindo memilih untuk fokus mengabdi pada edukasi dan pendidikan. Saya tentu saja terkesima dengan inovasi terbaru dari Grasindo ini. Ya, di era digital ini semua orang telah berlomba-lomba membuat akses edukasi menjadi sangat teramat muda. Dan di sinilah Grasindo berusaha menjadi pionir dalam mendigitalisasi buku pelajaran dari bidang penerbitan.

Sekarang-kan jamannya sudah Creative destructive.

Ya, gak salah sih sebagai penerbit  Grasindo mencoba melebarkan sayapnya menggaet start-up edu-tech untuk merumuskan LKS jadi site ini. Layanan berbasis website ini sebenarny…

DIY: Budget Bibimbap for a Sad Day

Gambar
Apakah lo pernah mengalami keadaan saat lo baru menyadari semua ini merupakan salah lo, dan lo-lah sumber masalahnya? Atau lo merasa kecewa dan sakit hati atas sesuatu? Tenang, gue bersama lo kok. Gue baru aja mengalami hal itu. Perasaan tidak enak yang membuat lo jahat kepada diri lo sendiri. Perasaan yang membuat lo benci atau bahkan merasa bahwa lo pantas diperlakukan lebih buruk daripada itu. 
Kenyataannya adalah gak ada yang salah dengan perasaan yang lo rasakan. Akan tetapi, kita gak boleh berlarut-larut terpuruk dalam keadaan yang sama. Lantas apakah lo harus langsung bangkit? Enggak, take your time. Jangan dengerin apa kata orang tentang apa yang lo alami. Pelan-pelan. Gue tahu betul, perasaan seperti itu sangat sakit. Lo tahu diri lo, lebih dari orang-orang disekitar lo tahu tentang lo. Kalau memang lo pikir, lo gak bisa kontrol. Gue mohon dengan sangat, carilah pertolongan. Carilah pertolongan professional. Jangan pernah meremehkan hal-hal seperti ini. You deserve to be hap…

Tempat Kembali

Sebagai seorang manusia dalam masa pencariannya, bukannya tidak mungkin gue tersesat. Bahkan bisa dibilang, gue sering sekali tersesat. Dalam ketersesatan itu gue menghadapi banyak pilihan. Tapi satu yang selalu gue pilih, yaitu berhenti sejenak. Ya, berhenti sejenak untuk menikmati ketersesatan gue. Sudah sejauh mana gue melangkah dan di mana gue mulai tersesat. Di dalam proses itu gue pun masih tetap mencari. Mencari tempat untuk kembali. Tidak jarang gue panik dan bahkan merasa hidup yang penuh tersesatan ini sangatlah sesat dan nirfaedah, sampai akhirnya gue bertanya pada diri gue sendiri tentang mengapa gue harus menjalani hidup ini. Tapi  lagi-lagi, pertanyaan itu merupakan sebuah pertanyaan retorikal yang bahkan sudah ada jawabannya di kepala gue.

Di lain sisi, gue juga menyadari bahwa proses ketersesatan itu adalah sebuah tempat perhentian sementara gue untuk mengingat sudah seberapa jauh gue melangkah. Sampai akhirnya, Sang Pengingat mengingatkan kembali bahwa ada sebuah temp…