Postingan

Peti Mati Untuk Empati Dari Pandemi

Gambar
Satu hal yang pertama kali tumbang ketika pandemi COVID-19 melanda Indonesia adalah empati.  Semua ini bermula ketika adanya prediksi dari para ahli bahwa Indonesia tidak akan luput dari momok virus Corona. Namun para petinggi, memilih untuk menutup mata dan menganggap bahwa masyarakat Indonesia begitu sakti sehingga tak ada virus, satu pun yang berani menginfeksinya. Bahkan, beberapa daerah mengajak turis untuk datang ke daerah tersebut tanpa pengetahuan dan penanganan infeksi menular yang cukup. Saat itu, egoisitas pemuka tinggi negeri ini dan masyarakat mengalahkan apa yang kita sebut logika dan hati nurani.Kemudian ketika pasien 0 terdeteksi, orang-orang kehilangan akal dan berbondong-bondong berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Egoisitas kembali muncul dan menjelma menjadi satu landasan kokoh untuk menjustifikasi pilihannya untuk menyelamatkan diri. Sebenarnya, tak ada yang salah dari menyelamatkan diri sendiri. Hal yang salah adalah ketika aksi menyelamatan diri itu merugikan…

Kembali dan Berawal

Gambar
Bisa dibilang gue adalah seseorang yang cenderung susah mengekspresikan apa yang gue rasakan hanya dengan berbicara. Bahkan banyak hal-hal yang sering jadi salah paham ketika gue berbicara. Tapi sejak gue mengenal dunia tulis menulis, gue merasa bahwa gue mempunyai cara tersendiri untuk berkomunikasi yaitu dengan menulis. Semenjak saat itu, menulis sudah menjadi bagian dari hidup gue. Menulis adalah salah satu wadah bagi gue untuk mengekspresikan diri gue. Menulis adalah salah satu cara terjujur untuk melihat diri gue sendiri.

Wiji Thukul : Istirahatlah Kata-Kata.

Gambar
Ketika pertamakali mengetahui bahwa akan ditayangkan sebuah film biografi Wiji Thukul, gue sangat excited sekali. Pasalnya gue ingin tahu sebenarnya siapa sih Wiji Thukul, apa yang ia lakukan sehingga ia harus berada dalam pelarian. Jujur, gue itu cuma tahu sekilas-duakilas tentang Wiji Thukul. Terlebih lagi gue tidak aware sama masalah beginian. Gue cuma tahu dia dari beberapa puisi yang pernah gue baca. Ditambah gue tidak terlalu paham tentang puisi. Jadi ya, jangan menaruh ekspektasi terlalu tinggi dengan review gue ini.
Saat menonton film ini gue sangat teramat menaruh ekspektasi yang tinggi dengan film ini. Dengan semangat yang menggebu-gebu, gue berharap semua yang gue tanyakan tentang Wiji Thukul bisa terjawabkan di sini. Setelah filmnya dimulai, gue langsung terkesima dengan opening film tersebut. Dimulai dengan suara siulan seorang perempuan yang saat itu gue belum tahu itu suara siapa, menyenandungkan sebuah lagu yang terasa amat syahdu dan familiar ditelinga gue. Lalu munc…