Bagaimana 2020 Mengajarkan Saya Lebih Menghargai Diri Saya Sendiri

Menurut saya, tidak ada hal yang benar-benar buruk pun begitu juga tidak ada yang benar-benar baik. Semuanya mempunyai lebih dari dua sisi untuk kita pahami. Sama seperti tahun 2020 yang dinobatkan menjadi tahun terburuk untuk manusia post-modern.  Saya pribadi menganggap 2020 adalah tahun yang tidak sangat buruk dan tidak juga sangat baik. Namun 2020, mengajarkan saya banyak hal. Terutama dalam hal menerima dan menjadi lebih dewasa. Dewasa di sini lebih seperti memikirkan semuanya matang-matang dan memprioritaskan diri sendiri. Memilih mana yang benar-benar penting dan mana yang lebih baik dipikirkan nanti. Terdengar membosankan memang. Namun menurut saya, itu adalah hal esensial yang semua orang harus tahu. 
Ketika menulis tulisan ini, saya jadi berpikir lebih jauh tentang apa yang telah saya lalui selama ini. Tentu saja, banyak mimpi-mimpi yang terbengkalai. Banyak juga harapan-harapan yang berubah menjadi asap dan kemudian hilang. Saya sama sekali tidak menyangka telah melewati har…

Peti Mati Untuk Empati Dari Pandemi


Satu hal yang pertama kali tumbang ketika pandemi COVID-19 melanda Indonesia adalah empati.  Semua ini bermula ketika adanya prediksi dari para ahli bahwa Indonesia tidak akan luput dari momok virus Corona. Namun para petinggi, memilih untuk menutup mata dan menganggap bahwa masyarakat Indonesia begitu sakti sehingga tak ada virus, satu pun yang berani menginfeksinya. Bahkan, beberapa daerah mengajak turis untuk datang ke daerah tersebut tanpa pengetahuan dan penanganan infeksi menular yang cukup. Saat itu, egoisitas pemuka tinggi negeri ini dan masyarakat mengalahkan apa yang kita sebut logika dan hati nurani.

Kemudian ketika pasien 0 terdeteksi, orang-orang kehilangan akal dan berbondong-bondong berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Egoisitas kembali muncul dan menjelma menjadi satu landasan kokoh untuk menjustifikasi pilihannya untuk menyelamatkan diri. 

Sebenarnya, tak ada yang salah dari menyelamatkan diri sendiri. Hal yang salah adalah ketika aksi menyelamatan diri itu merugikan dan membahayakan orang lain. Contoh paling nyatanya adalah penimbun masker, rubbing alkohol, hingga makanan pokok yang menjadi hal essensial dalam kehidupan sekarang. Mereka mengambil laba sebanyak-banyaknya dari nestapa pandemi yang menghantui. Hasilnya sekarang, setelah hampir enam bulan Corona menetap di Indonesia, empati telah mati dan bersemayam di dalam peti mati bersama ribuan orang yang meninggal karena Corona.

Empati mulai sekarat saat adanya bias kelas dalam penanganan pandemi di indonesia. Bukan hanya pada tingkat masyarakat, namun juga pada tingkat pemerintahan. Adanya penanganan dan perlakuan favoritism antara yang 'kaya', yang 'menengah kaya' dan 'si miskin' begitu melekat sehingga muncul pengorbanan 'si miskin' untuk 'yang kaya' dan 'yang menengah kaya'. Pemerintah pun mulai menyalahkan masyarakat menengah ke bawah karna tak bisa berada tetap di rumah. Begitu pula masyarakat menengah. Padahal mereka adalah kaum yang sangat rentan karena terpaksa untuk keluar rumah kala mencari sesuap nasi. Bahkan, beberapa dari mereka tidak memiliki tempat untuk berteduh dan mengisolasi diri. 

Dalam sebuah artikel dari The Conversation yang ditulis oleh Dicky Pelupessy (Dosen Fakultas Psikologi, UI),  Jony Eko Yulianto (PhD Candidate, Massey University), dan Monica. Madyaningrum (Dosen ilmu psikologi komunitas, Universitas Sanata Dharma), membahas dengan gamblang dan menyeluruh tentang adanya diskursus bias kelas dari pemerintah yang melanda penanganan serta tindakan preventif penyebaran Corona. Hal ini tentunya meniadakan kesenjangan kelas yang berefek generalisasi disegala socioekonomi status. Padahal ada perbedaan yang mendalam tentang bagaimana kondisi ekonomi bisa mempengaruhi tingkat kerentanan infeksi virus tersebut.

    Bagi masyarakat menengah ke-atas, permasalahan pemenuhan kebutuhan hidup selama PSBB bukanlah masalah yang signifikan bagi mereka. Adanya panic buying yang terjadi pada awal PSBB menjadi petanda bahwa mereka masih punya privilage untuk tetap di rumah tanpa harus mengorbankan ekonomi mereka. Berbeda sekali dengan masyarakat menengah kebawah yang masih harus bekerja ditengah pandemi ini. 

Sayangnya ketika pemerintah mengambil langkah untuk membuka PSBB, pemerintah juga membuat ilusi rasa aman dengan menggalakkan kampanye "new normal' begitupun dengan pembuatan kalung aromaterapi eukalyptus yang diklaim dapat 'mematikan virus corona' Pada sisi lain, besarnya dana yang digelontorkan untuk menyuksesan kampanye yang didukung oleh artis dan influencer membuat masyarakat lebih rentan karena misinformasi yang beredar.

Para influencer yang merasa pintar dan mempunyai panggung untuk mendulang pamor dengan memilih untuk menyebarkan informasi yang salah hingga adanya miskonsepsi dan rasa aman yang tidak nyata timbul di masyarakat. Tentu saja semua hal ini mendorong empati menjadi mati dan munculnya banyak kluster-kluster baru penyebaran corona hingga saat ini PSBB 2 dimulai (September, 2020). 

Semua itu tentu saja membuat saya menangisi empati yang telah mati di hati mereka. Tak ada lagi solidaritas antara masyarakat yang ada hanyalah siapa yang bisa bertahan dengan kekuatannya sendiri. Beberapa kalangan masyarakat pun masih dengan lenggang berpergian tanpa memikirkan bahwa mereka bisa aja membunuh orang lain dengan virus yang tak terdeteksi. Kematian manusia memang rahasia ilahi, namun kematian empati sudah pasti tanggung jawab kita. Dan ketika empati mati, pada akhirnya, menurut saya, konsep kesejahteraan bagi seluruh rakyat di Indonesia tidak akan pernah tercapai tanpa adanya kesadaran dan empati.

*Tulisan ini diikutsertakan pada OWOP dari Warung Blogger

Komentar

  1. sedih ya

    sebenarnya aku merasa empati di indonesia itu udah mati lama jauh sebelum pandemi ini sih, mif. di saat orang2 mulai berkoar2 harus mementingkan kebahagiaan diri sendiri dulu, tapi kemudian lupa untuk memastikan apakah kebahagiaan diri sendiri itu tidak bersenggolan dg kepentingan banyak orang

    BalasHapus
  2. Kerasa banget memang empati ini udah mati apalagi pas pandemi. Masih ingat sih waktu pada jual masker mahal banget. Ketemu yang kaya bisa tetap jalan-jalan cantik. Entahlah

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Zen dan Hal yang Bisa Dipelajari Selama Pandemi

Beras dan Kemanusiaan ala Jhumpa dan Gie

Lost and Forgettable