Bagaimana 2020 Mengajarkan Saya Lebih Menghargai Diri Saya Sendiri

Menurut saya, tidak ada hal yang benar-benar buruk pun begitu juga tidak ada yang benar-benar baik. Semuanya mempunyai lebih dari dua sisi untuk kita pahami. Sama seperti tahun 2020 yang dinobatkan menjadi tahun terburuk untuk manusia post-modern .  Saya pribadi menganggap 2020 adalah tahun yang tidak sangat buruk dan tidak juga sangat baik. Namun 2020, mengajarkan saya banyak hal. Terutama dalam hal menerima dan menjadi lebih dewasa. Dewasa di sini lebih seperti memikirkan semuanya matang-matang dan memprioritaskan diri sendiri. Memilih mana yang benar-benar penting dan mana yang lebih baik dipikirkan nanti. Terdengar membosankan memang. Namun menurut saya, itu adalah hal esensial yang semua orang harus tahu.  Ketika menulis tulisan ini, saya jadi berpikir lebih jauh tentang apa yang telah saya lalui selama ini. Tentu saja, banyak mimpi-mimpi yang terbengkalai. Banyak juga harapan-harapan yang berubah menjadi asap dan kemudian hilang. Saya sama sekali tidak menyangka telah melewati ha

Hidup Zen dan Hal yang Bisa Dipelajari Selama Pandemi


Bagaimana Pandemi Mengobrak-abrik Mental kita?

    Bisa dibilang pandemi ini membuat kita memahami banyak hal. Termasuk tentang bagaimana kita melihat diri kita sendiri dan dunia. Beberapa orang mempunyai cara untuk menghadapi pandemi ini dengan berlomba-lomba untuk menjadi produktif dengan mengambil keahlian dan hobi tertentu. Atau bahkan berusaha untuk tidak terlihat 'kenapa-kenapa', padahal mereka tahu betul bahwa pandemi ini memiliki efek yang berat bagi diri mereka sendiri. Beberapa orang yang lain lagi berusaha untuk 'keep up' dengan kenyataan yang ada melewati hari dengan berdiam diri atau berusaha menyenangkan diri sendiri dengan hal-hal yang mereka anggap receh. Dan segelintir orang lainnya, terpuruk di pojok kamar, mengais hati yang telah hancur berkeping-keping. Namun satu hal yang pasti:

"Kamu gak sendirian." 
    Seberapa besar pun kamu menganggap bahwa kamu sendirian, ingatlah, kamu gak benar-benar sendirian. Pandemi memang mengisolasi kita untuk memiliki kontak langsung kepada teman atau orang terdekat. Namun, pandemi gak mengisolasi kita untuk menjangkau mereka melalui sosial media atau media daring lainnya. Hanya saja, butuh keberanian yang kuat untuk kita memulai percakapan kembali dan mengatakan "Hai, apa kabar?".

       Selain kita merasa benar-benar sendirian, pandemi juga membuat kita merasa amat teramat lemah, fragile, tak punya kendali atas diri kita sendiri. Hal-hal yang kita harapkan, pergi seperti debu yang tertiup angin. Pintu-pintu yang awalnya terbuka, secara gamblang tertutup di depan hidung kita. Rasa kecewa dan putus asa pun menyelinap dan menyelimuti hati kita. Lalu bermunculan pikiran-pikiran seperti:
 "Apa aku cukup?"
 "Apa aku bisa bertahan?"
 "Apa aku worthy?"
        Hal itu kemudian membuatmu tambah terpuruk. Kamu pun mencoba untuk mengikuti saran orang lain dengan mencoba hobi baru. Melakukan hal yang kamu suka. "Menjadi produktif", katanya. Namun ketika beberapa hari kamu mencoba menjadi produktif, pikiran itu menyelinap kembali. Dia berbisik: 
"Untuk apa kamu melakukan ini semua?"
 "Bukankah yang kamu lakukan ini sia-sia?"
        Setiap hari pun serasa seperti pertempuran antara dirimu dan dirimu yang lainnya. Dan aku tahu, itu sangat teramat memuakkan. Apalagi ketika kita setiap hari mendengar angka-angka yang terus bertambah dari yang terinfeksi virus COVID-19. Tiba-tiba dada kamu terasa sesak dan secara gak sadar, kamu berpikir bahwa kamu mengalami demam sambil berpikir kapan ini semua akan berakhir?

Berita Buruk dan Berita Baik

         Berita buruknya, pandemi tidak akan pernah berakhir. Sebagaimana wabah influenza yang tidak akan pernah berakhir. Hanya saja, lambat-laun kita akan lebih kuat dan memiliki berbagai macam cara untuk menanggulangi virus COVID-19. Hal ini memang menakutkan. Sangat teramat menakutkan. Kita pastinya mengkhawatirkan diri kita dan orang-orang yang kita sayangi. Aku sendiri pun tidak akan mengatakan kamu untuk tidak takut. Namun aku akan mengatakan kamu untuk tenang dan menarik napas secara perlahan. Karena tentunya, pasti ada berita baik dibalik berita buruk. 
        
        Berita baiknya, pandemi ini memberikan kita celah untuk kembali mengintrospeksi diri dan berpikir apa-apa yang lebih penting di dalam kehidupan kita. Memulai memupuk semangat dan melihat banyak opportunity baru yang akan datang ditengah pandemi ini. Seperti menemukan arti bahagia dalam definisi kita sendiri atau meraih ketenangan spiritual yang telah lama kita tinggalkan karena mengukur semua hal melalui materi.

Hidup Zen dan Mencapai Ketenangan Spiritual 

         Dalam sebuah buku Filosofi Teras karya Henry Manimpiring yang membahas filosofi Stoic, beliau menjelaskan bahwa ada dikotomi otoritas di dalam hidup ini yang mana ada yang bisa kita kontrol dan ada yang tidak bisa kita kontrol. Dikotomi otoritas ini sangat lekat dalam kehidupan manusia yang terlalu terobsesi dengan memilih, mengatur, dan mendapatkan hasil sesuai yang ia harapkan. Padahal di dalam dunia ini, ada banyak faktor yang gak bisa dijelaskan dan diatur sesuai otoritas diri sendiri. Hal itu lama-kelamaan membuat kita merasa tak berdaya dan berpikir tak ada gunanya hidup ini. Padahal ketika kita memahami akan adanya unpredictable factors, kita akan sadar bahwa gak ada gunanya memikirkan hal-hal yang gabisa kita kontrol dan nantinya kita akan lebih bahagia.
            
            Ngomongin masalah kebahagiaan, aku sendiri sudah mencari penjelasan tentang bahagia ini selama 20 tahun hidup di dunia ini. Hal ini membuat aku selalu bertanya sebenarnya hidup bahagia itu hidup yang seperti apa? Dari kecil, aku berpikir bahwa aku akan bahagia kalau dikasih kado yang aku mau, tas baru, baju baru, gelang hingga sepatu roda. Tapi nayatanya, momen yang paling aku bikin bahagia waktu kecil adalah saat bisa menyelesaikan soal matematika sendiri waktu kelas 1 SD. Semenjak dari situ aku mencintai matematika sebagaimana aku mencintai topping chocochip di eskrim yang aku makan. Hal ini terus berlanjut hingga aku dewasa. Aku terus mencari arti kebahagiaan itu sendiri. 
            
               Di masa pandemi ini aku struggling mencari tahu apa yang aku mau dan apa yang membuat aku bahagia. Bukan berarti aku gak bersyukur tapi selama ini, aku gak ngerasa fulfilling dalam hidup. Itu semua menarik aku untuk mencari arti lebih dalam kehidupan ini. 
 
            Haidar Bagir, salah satu ulama yang aku look up to selain alm. Gus Dur menulis sebuah buku dengan judul Islam Risalah Cinta dan Kebahagiaan membuat aku menangis semalaman. Di dalam buku itu aku disadarkan bahwa bahagia di dunia ini adalah sebagaimana dirimu melihat hatimu sendiri. Aneh ya? Iya memang. Namun kalau dipikir lagi, bahagia di dunia itu artinya memliki tingkat ketenangan seperti air yang tenang. Tidak terusik pada masalah duniawi dan pemikiran-pemikiran negatif yang membuat air itu riak. Eits, bukan berarti kita harus melepaskan semua keduniawi-an kita. Namun lebih ke berpikir bahwa semuanya akan baik-baik aja karena hidup kita gak sendirian. Kalau diibaratkan gim, pemikiran negatif ada hurdles yang harus dilewati untuk memberi arti lebih kepada kehidupan kita sendiri. Hal ini karena disetiap hal yang sedih, akan ada hal yang membuatmu tertawa pada akhirnya. 

            Pada akhirnya mencapai ketenangan dan hidup zen itu berakar dari pemikiran kita sendiri untuk bertanya sebenarnya apa makna kehidupan kita? Apa yang kita inginkan? Karena hidup menurut aku lebih dari sekedar angka dan kesenangan. Bagaimana dengan kamu? Apa hal yang bisa kamu pelajari sealama pandemi? Dan bagaimana kamu mengartikan hidupmu sendiri?
 

Komentar

  1. Selama pandemi beneram belajar bagaimana mengendalikan diri dengan segala macam keinginan termasuk traveling. Belajar finansial karena kudu diatur bener bener

    BalasHapus
  2. Sukak sama tulisannya. Sebaiknya manusia memang tdk pernah berhenti mencari dan menemukan sumber kebahagiaannya. Hidup terlalu berarti utk diabaikan.

    BalasHapus
  3. Jadi hidup zen dan zen itu apa ya mas. Scr definisi bs dijelaskan ngga. Zen itu apa yak

    BalasHapus
  4. Stress, terpuruk dan merasa tidak aman ... Ini saya rasakan selama pandemi. Bahkan sampai sekarang kesulitan untuk bangkit, bahkan masih kebingungan langkah mana dulu yang harus dilakukan untuk bertahan

    BalasHapus
  5. Iya sih, agak sedih pas tau kenyataan bahwa covid ini tidak akan sepenuhnya hilang hanya bisa di cegah atau di obati saja. Tapi hidup tenang itu memang hanya kita yg menentukan

    BalasHapus
  6. Setuju banget, pikiran kitalah yang membuat hidup kita bahagia. Sebaliknya pikiran sedih kita pula yang membuat hidup kita sedih. Dan, saya beneran sangat percaya itu.

    BalasHapus
  7. Banyak banget yang aku pelajari selama pandemi ini. Tapi yang paling besar adalah tentang bersyukur. Sekecil dan seremeh apapun yang kita punya, syukuri aja. Itu yang bikin kita bahagia, sih. Gak terlalu melihat ke atas untuk hal-hal duniawi.

    BalasHapus
  8. Bener. Pandemi ini mengajariku untuk mensyukuri hal sekecil apapun, bahkan sekecil bisa bareng terus sama keluarga kecil. Bisa makan tanpa takut kekurangan.

    BalasHapus
  9. Jujur aja aku juga masih ngambang bagaimana mengartikan hidup apalagi di kondisi sekarang, rasanya terlalu banyak kecemasan dan ketakutan. Tapi kata sebagian orang wajar sekali usia 20an memang banyak bingung dan takutnya, pun bingung dengan definisi bahagia yang walau kita sendiri yang udah nerapin standar untuk diri sendiri kadang berbentrok dengan realita. Keep finding yourself ya Ka Mipsss

    BalasHapus
  10. Selama Pandemi saya merasa seperti di bekam di rumah. Apalagi saya tertahan di rumah mama di medan karena covid19 ini. Alhasil belum balik 2 ke jakarta

    BalasHapus
  11. situs judi online dengan permainan togel online dengan pasaran togel terbaik yaitu togel singapore disini : notogelsingapore

    BalasHapus
  12. Selama pandemi jadi lebih sering ngobrol sama diri sendiri, ternyata banyak sekali hal-hal selama ini yang masih belum selesai dengan diri sendiri,

    BalasHapus
  13. di masa seperti ini, memang diperlukan sesuatu yang bisa menenangkan jiwa dan pikiran :') terimakasih telah berbagi informasi ya kak

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Beras dan Kemanusiaan ala Jhumpa dan Gie

Membahas Pernikahan, Putus Cinta, Ego, dan Toksik Maskulinitas bersama Gala di Ganjil-Genap