Peti Mati Untuk Empati Dari Pandemi

Gambar
Satu hal yang pertama kali tumbang ketika pandemi COVID-19 melanda Indonesia adalah empati.  Semua ini bermula ketika adanya prediksi dari para ahli bahwa Indonesia tidak akan luput dari momok virus Corona. Namun para petinggi, memilih untuk menutup mata dan menganggap bahwa masyarakat Indonesia begitu sakti sehingga tak ada virus, satu pun yang berani menginfeksinya. Bahkan, beberapa daerah mengajak turis untuk datang ke daerah tersebut tanpa pengetahuan dan penanganan infeksi menular yang cukup. Saat itu, egoisitas pemuka tinggi negeri ini dan masyarakat mengalahkan apa yang kita sebut logika dan hati nurani.Kemudian ketika pasien 0 terdeteksi, orang-orang kehilangan akal dan berbondong-bondong berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Egoisitas kembali muncul dan menjelma menjadi satu landasan kokoh untuk menjustifikasi pilihannya untuk menyelamatkan diri. Sebenarnya, tak ada yang salah dari menyelamatkan diri sendiri. Hal yang salah adalah ketika aksi menyelamatan diri itu merugikan…

Perihal Menjadi Cahaya Ala Grasindo & Leson.id



Ada banyak cara untuk menjadi cahaya. Salah satu adalah dengan menubrukkan kegelapan dengan cahaya itu sendiri. Dan itulah yang dilakukan oleh Grasindo. Grasindo berusaha sebisa mungkin untuk menjadi cahaya disaat dunia sedang kebingungan dengan kegelapannya sendiri.

Kali ini cara grasindo untuk menjadi cahaya adalah dengan terus melakukan inovasi. "Passionately Innovating," katanya. Di tahunnya yang ke 29 tahun, Grasindo memilih untuk fokus mengabdi pada edukasi dan pendidikan. Saya tentu saja terkesima dengan inovasi terbaru dari Grasindo ini. Ya, di era digital ini semua orang telah berlomba-lomba membuat akses edukasi menjadi sangat teramat muda. Dan di sinilah Grasindo berusaha menjadi pionir dalam mendigitalisasi buku pelajaran dari bidang penerbitan.

Sekarang-kan jamannya sudah Creative destructive.

Ya, gak salah sih sebagai penerbit  Grasindo mencoba melebarkan sayapnya menggaet start-up edu-tech untuk merumuskan LKS jadi site ini. Layanan berbasis website ini sebenarnya mudah sekali dipakai. Tinggal bikin account, sudah deh. Semua orang bisa mengakses ribuan soal  UN, SBMPTN, hingga kelas profesi.

Kemarin aku coba iseng-iseng ngerjain soalnya di kantor Grasindo dan Leson.id. Yakan. Mumpung udah lulus kuliah yakan. Coba uji kepinteran. Terus, astaghfirullah soalnya. Aku gak sanggup sampe diketawain mas-masnya. Makasih mas yang udah ngetawain saya.


Eits, tapi bukan berarti Grasindo dan Leson.id cuma provide soal-soal yang udah dikurasi sama para pakar lho. Ternyata,  Leson.id juga menggaet SnapAsk yang ngasih kita tutor kalo kita gak tahu cara menjawabnya! Yaampon, coba aku udah tahu mereka duluan pas masih sekolah 4 tahun lalu Udah pastilah gak ada yang remedial.

Di acara Ulang tahun Grasindo kemarin juga banyak banget surprise dan insight tentang dunia perbukuan yang lagi digemparkan dengan trend horror dan non-fiksi. Belum lagi dengan pergolakan kreatif yang yaampun gilanya parah banget. Ibarat kata nih, dunia kreatif di Indonesia sekarang mungkin udah mulai masuk Blue ocean di mana orang-orang lagi berlomba-lomba biar menjadi lebih kreatif dan menonjol.


Namun bagi grasindo, yang terpenting adalah menjadi cahaya dalam dunia yang terang benderang. Terus berjaya Grasindo. Hayoo, aku nungguin buku-buku yang ciamik lainnya lho!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Zen dan Hal yang Bisa Dipelajari Selama Pandemi

Beras dan Kemanusiaan ala Jhumpa dan Gie

Lost and Forgettable