Beras dan Kemanusiaan ala Jhumpa dan Gie

Gambar
Beberapa orang mungkin hanya menganggap beras sebatas pangan yang harus dimakan demi menjaga perut tetap penuh. Mungkin juga beras hanyalah karbohidrat yang jahat bagi mereka yang diet mati-matian. Namun bagi Jhumpa Lahiri, beras memiliki arti lebih dari itu. Beras baginya telah menjelma sebagai simbol jati diri dari seorang imigran yang merasa tidak memiliki tempat. Beras juga menjadi bentuk kasih sayang seorang bapak kepada anaknya, sehangat sepiring nasi hangat yang selalu tersedia di meja makan. Hal ini lah yang membuat aku tergugah ketika membaca sebuah esai yang ditulis oleh Jhumpa Lahiri. Aku ingat betul kali pertama aku jatuh cinta pada tulisan Jhumpa Lahiri. Saat itu aku sedang bertanya-tanya tentang jalan hidup yang aku pilih. Mengapa aku masuk ke ilmu pangan dan mengapa pula aku bertahan di tempat ini. Saat itu dengan segala kegundah gulanaan yang aku alami, sebuah link melintas di lini masa twitter dan saat itulah aku membaca tulisan beliau untuk pertama kali Beras oleh Jh…

LiterArt - Berseni Dengan Literasi Bersama Gramedia Matraman

Ada yang bilang kalau menulis atau membaca buku itu merupakan pekerjaan yang sangat kaku. Makanya, dengan seenak jidatnya, mereka mengecap orang-orang yang menyukai menulis atau buku adalah kutu buku. Dan gak jarang dari mereka terkurung dengan stigma yang terkucilkan dari hubungan sosialisasi masyarakat. Termasuk juga saya. Karena stigma itu, saya selalu dibilang orang yang serius dan tidak mengenal apa itu keindahan seni. huff, sial. Nyatanya, tulisan, prosa, puisi, esai, dan bahkan kritik merupakan salah satu bentuk seni. Jadi ya, salah besar kalo dibilang saya, atau kami, merupakan orang yang tidak berseni.

Potret inilah yang diambil dari festival LiterArt dari Gramedia Matraman. Toko buku yang telah berdiri, gak duduk ya, jauh sebelum saya lahir. LiterArt lahir dari keinginan Gramedia Matraman untuk menunjukan bahwa buku juga merupakan media seni. Dan pada acara ini, Gramedia Matraman menggabungkan festival literasi dengan bentuk seni lainnya seperti menari, lalu adanya bincang bersama idola, content creator, hingga, acara hibah buku untuk memastikan bahwa setiap anak berhak mendapatkan akses informasi buku secara layak.

Pada tanggal 19 Oktober 2019 ini, saya diundang untuk datang dan berbagi kebahagiaan dengan teman-teman di sana. Selain bertemu dengan teman sesama blogger, saya juga bertemu dengan beberapa orang yang sumpah cinta mati dengan content creator yang sedang menjadi pembicara. Saya pun berbincang sedikit dengan mereka. Begini kira-kira perbincangan kami:

Saya: "Halo, kamu ke sini biar ketemu sama Syakir Daulay ini ya?"

Mawar: "Iya dong, Kak!"

Saya: "Ngefans banget?"

Mawar: "Tentu aja kak. Hihihihi"

Saya: "Kenapa bisa ngefans gitu?

Mawar: "Gimana ya kak, dia itu tuh pinter sholawatan, terus aktor, terus youtuber, terus penulis juga! Baik dan ganteng lagi!"

Saya: "Oh gitu hehehe, iya sih kelihatannya gitu ya? Hahahaa, emang video dan tulisannya bagus?"

Mawar: "Iya kak, lucu gitu terus gampang dibayangin."

Saya: "Terus kalo ketemu sama dia, kamu mau bilang apa?"

Mawar: "Gak tahu kak, saya pokoknya cuma mau ketemu aja."

Lalu saya dan dia pun tertawa-tawa sambil berbincang buku apa saja yang dia baca. Oh iya, Mawar ini nama samaran dan dia umurnya masih jauh dibawah saya tapi ternyata dia sudah bekerja dan harus membantu menghidupi kedua adiknya. Perbincangan tersebut terasa hangat bagi saya. Setidaknya Mawar dan rekan-rekan yang lain memberi saya harapan bahwa masih ada kebahagiaan diluar sana. Walaupun mungkin, saya ataupun Syakir tidak menyadarinya.

Di sisi lain dari gedung Gramedia Matraman yang kokoh ini, saya melihat segerombolan ibu-ibu yang sedang mengikuti perbincangan hangat dengan Ashtra Dymach. Mereka dengan hikmat mendengarkan serta berbagi cerita tentang kehidupan seorang Ibu sambil berbagi gelak tawa. Berbicara tentang Post-Partum dan bagaimana menikmati menjadi orangtua sekaligus perempuan dan seorang anak juga penting bagi Ibu. Dan berbagi kisah bersama ibu-ibu lain, menurut saya adalah salah satu cara yang bagus untuk coping dengan kehidupan.

Lantas, ada apa lagi di LiterArt?

Selama sembilan hari, LiterArt akan menghadirkan banyak acara yang bisa kamu hadiri! Penasaran ada apa aja? Lihat pada foto di bawah ini ya!


Oh iya, ada juga acara RAUP BUKU lho! Iya, semua pengunjung Gramedia dibebaskan untuk mengambil berapa banyak pun buku yang bisa kamu ambil mueheheh! Jadi ya, jangan lupa untuk datang soalnya kamu bisa bawa pulang banyak buku!


Oh iya, saya juga akan ngadain giveaway nih di akun Twitter dan instagram! Buat yang gak bisa datang ke LiterArt, mungkin kamu bisa ikutan giveawaynya! Jangan lupa cek twitter dan Instagram saya ya! 

Komentar

  1. Ada raub buku? Huaaaa.... asyik banget itu Mbak.
    Bagi kami di Jepara, to Mbak, seni juga media literasi. Sudah terbiasa digabungkan. Bahkan di pameran seni pun selalu ada gelar buku, diskusi terbuka, dan semacamnya.
    Mungkin karena kami tinggal di kota yang mencintai seni dan hidup melalui seni.

    BalasHapus
  2. Oktober yang full ya acaranya, sampai ada tribute to sheila on 7 juga sampai bts ey hihi! asyik tuh raup buku, itu free?

    BalasHapus
  3. Aku ya sedih lah kalo dibilang literasi itu gak nyeni atau gak ada hubungannya sama seni. Lha wong rangkaian kalimat itu juga butuh irama dan keindahan kalau mau dibilang bagus :)
    Btw acaranya keren banget, ya. Ada raup buku pula. Wiihhh.

    BalasHapus
  4. Wkwkwk.. kenapa nama belakangku sering banget di jadikan nama samaran org ya. Btw, aku berharap raup buku juga ada di banjarmasin 🤩🤩

    BalasHapus
  5. Wih, semoga sukses ya acaranya Mippp. Buktikan kalo orang yang suka baca buku itu sebetulnya juga nyeni batssss.

    BalasHapus
  6. Duh, di kotaku nggak ada Gramedia, pengen ke Gramedia Matraman banyak kegiatan seru ya, penasaran sama LiteArt

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Zen dan Hal yang Bisa Dipelajari Selama Pandemi

Lost and Forgettable

Ketika Orang Lain Kecewa Padamu