Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2017

Bagaimana 2020 Mengajarkan Saya Lebih Menghargai Diri Saya Sendiri

Menurut saya, tidak ada hal yang benar-benar buruk pun begitu juga tidak ada yang benar-benar baik. Semuanya mempunyai lebih dari dua sisi untuk kita pahami. Sama seperti tahun 2020 yang dinobatkan menjadi tahun terburuk untuk manusia post-modern .  Saya pribadi menganggap 2020 adalah tahun yang tidak sangat buruk dan tidak juga sangat baik. Namun 2020, mengajarkan saya banyak hal. Terutama dalam hal menerima dan menjadi lebih dewasa. Dewasa di sini lebih seperti memikirkan semuanya matang-matang dan memprioritaskan diri sendiri. Memilih mana yang benar-benar penting dan mana yang lebih baik dipikirkan nanti. Terdengar membosankan memang. Namun menurut saya, itu adalah hal esensial yang semua orang harus tahu.  Ketika menulis tulisan ini, saya jadi berpikir lebih jauh tentang apa yang telah saya lalui selama ini. Tentu saja, banyak mimpi-mimpi yang terbengkalai. Banyak juga harapan-harapan yang berubah menjadi asap dan kemudian hilang. Saya sama sekali tidak menyangka telah melewati ha

Rumah Kertas : Debu di Antara Bebukuan

Gambar
Seorang professor sastra mati, ironisnya karena sastra itu sendiri! Marjin Kiri Bluma Lennon diketemukan tergeletak di tikungan jalan pertama setelah tertabrak oleh sebuah mobil yang merenggut nyawanya. Beberapa orang berkesimpulan bahwa kematian sang professor dikarenakan kecintaannya kepada sastra, dan sebagian lainnya menolak mentah-mentah pernyataan tersebut. Seorang rekan Bluma menggantikan posisinya sebagai professor sastra di Universitas Cambridge. Semua berjalan normal hingga rekannya itu mendapatkan sebuah paket tanpa pengirim yang beralamatkan ke Bluma sendiri. Paket dengan cap pos Uruguay itu berisi sebuah buku karya Joseph Conrad dengan judul La linea de sombra, terjemahan spanyol dari The shadow-line  yang tampak aneh dengan serpihan semen kering di kedua sisi sampulnya.  Penasaran, rekan Bluma mencari asal usul dari buku tersebut yang membawanya ke dalam perjalanan tak terduga tentang arti sebuah buku.  Kartu Tanda Buku Judul : Rumah Kertas | Judul Asl

Antara Raden Saleh dan Nicoolas Pieneman

Gambar
Ketika semua orang berbondong-bondong ke Galeri Nasional untuk mendapatkan foto yang maha aesthetic , gue ke GALNAS malah mencari ketenangan. Bagi gue GALNAS tuh semacam tempat gue merenung untuk mencoba memahami hal-hal yang tersirat, abstrak, dan yang gak gue pahami. Namun kunjungan tanggal 27 September 2017 kemarin, sangat membuka mata gue yang gak pedulian. Iya, mungkin ini bisa jadi juga karena adanya restorasi, modernisasi, dan pembaruan format dan struktur museum serta galeri nasional yang bikin semuanya menjadi mudah. Khususnya informasi sebuah karya ataupun sejarah. Mungkin juga karena guenya aja yang gak tahu sejarah dan gak peduli sejarah, padahal teman-teman semua sudah tahu. Tapi yang pasti gue sangat takjub sama fakta yang membuka mata gue ini.  Saat gue memasuki salah satu area di pameran tetap GALNAS, mata gue langsung mengenal sebuah lukisan karya Raden Saleh dengan judul Penangkapan Pangeran Diponegoro . Awalnya gue merasa senang karena bisa secara langsung

Hank's Bookshop: My Hidden Treasure, Till we meet again!

Gambar
c: Constrant Crafter Gue masih ingat betul hari di mana gue menemukan harta karun tersembunyi dihiruk-pikuk kota Seoul. Hari itu tanggal 24 Juli 2017, setelah gue dan beberapa teman lainnya mengunjungi Istana Gyeongbokgung di area Jogno-gu kami memutuskan untuk berpindah ke area lain yaitu Insa-dong untuk mencari pernak-pernik khas Korea. Dalam perjalanan itu, sebuah papan nama menarik perhatian gue.  "Hank's Book Cafe = A Traveller bookshop"  c: Seoul Selection Magazine Secara tidak sadar, kaki gue berhenti bergerak dan terdiam di depan etalase yang terdapat banyak buku serta sticker-sticker lucu. Gue yang masih terkesima dengan betapa unik dan menarik toko buku tersebut, meminta teman-teman gue untuk tunggu sebentar dan cepat-cepat mengeluarkan kamera analog dan memfotonya. Sayang pada hari itu gue gak bisa mengunjungi toko buku itu karena jadwal  kami yang padat. Jadilah gue hanya bisa berjanji pada diri sendiri untuk kembali lagi ke sana walaup