Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2017

Ketika Orang Lain Kecewa Padamu

Gambar
Pada setiap persimpangan jalan hidup, pasti kita bersinggungan dengan orang lain. Pun begitu pula dengan apa yang kita lakukan, juga pasti akan berpengaruh pada kehidupan orang lain. Aku jadi ingat sebuah buku berjudul The Five People You Meet in Heaven karya Mitch Albom yang aku baca lima tahun yang lalu. Buku tersebut memberikan cuplikan tentang bagaimana apa yang kita lakukan bisa memiliki efek yang besar pada hidup seseorang. Pendeknya seperti domino effect. Makin ke sini, makin aku berpikir bahwa apa yang diceritakan oleh Mitch Albom memang sangat masuk akal. Seperti domino-domino itu, hidup kita terlihat kekar namun juga ringkih terhadap satu jentikan jari.
Lalu bagaimana ketika orang lain berkata padamu bahwa ia kecewa pada dirimu?
Hal-hal yang harus kamu lakukan ketika orang lain kecewa padamu
Pertama, tarik napas dalam-dalam.Mengatur napas dengan baik bisa membuat pikiran kita lebih jernih. Apalagi ketika kata-kata itu menusuk dirimu secara tiba-tiba. Kamu pasti merasa duniamu s…

Rumah Kertas : Debu di Antara Bebukuan

Gambar
Seorang professor sastra mati, ironisnya karena sastra itu sendiri!

Bluma Lennon diketemukan tergeletak di tikungan jalan pertama setelah tertabrak oleh sebuah mobil yang merenggut nyawanya. Beberapa orang berkesimpulan bahwa kematian sang professor dikarenakan kecintaannya kepada sastra, dan sebagian lainnya menolak mentah-mentah pernyataan tersebut. Seorang rekan Bluma menggantikan posisinya sebagai professor sastra di Universitas Cambridge. Semua berjalan normal hingga rekannya itu mendapatkan sebuah paket tanpa pengirim yang beralamatkan ke Bluma sendiri. Paket dengan cap pos Uruguay itu berisi sebuah buku karya Joseph Conrad dengan judul La linea de sombra, terjemahan spanyol dari The shadow-line yang tampak aneh dengan serpihan semen kering di kedua sisi sampulnya. 
Penasaran, rekan Bluma mencari asal usul dari buku tersebut yang membawanya ke dalam perjalanan tak terduga tentang arti sebuah buku. 
Kartu Tanda Buku Judul : Rumah Kertas | Judul Asli : La casa de Papel | Penulis :…

Antara Raden Saleh dan Nicoolas Pieneman

Gambar
Ketika semua orang berbondong-bondong ke Galeri Nasional untuk mendapatkan foto yang maha aesthetic, gue ke GALNAS malah mencari ketenangan. Bagi gue GALNAS tuh semacam tempat gue merenung untuk mencoba memahami hal-hal yang tersirat, abstrak, dan yang gak gue pahami. Namun kunjungan tanggal 27 September 2017 kemarin, sangat membuka mata gue yang gak pedulian. Iya, mungkin ini bisa jadi juga karena adanya restorasi, modernisasi, dan pembaruan format dan struktur museum serta galeri nasional yang bikin semuanya menjadi mudah. Khususnya informasi sebuah karya ataupun sejarah. Mungkin juga karena guenya aja yang gak tahu sejarah dan gak peduli sejarah, padahal teman-teman semua sudah tahu. Tapi yang pasti gue sangat takjub sama fakta yang membuka mata gue ini. 
Saat gue memasuki salah satu area di pameran tetap GALNAS, mata gue langsung mengenal sebuah lukisan karya Raden Saleh dengan judul Penangkapan Pangeran Diponegoro. Awalnya gue merasa senang karena bisa secara langsung melihat lu…

Hank's Bookshop: My Hidden Treasure, Till we meet again!

Gambar
Gue masih ingat betul hari di mana gue menemukan harta karun tersembunyi dihiruk-pikuk kota Seoul. Hari itu tanggal 24 Juli 2017, setelah gue dan beberapa teman lainnya mengunjungi Istana Gyeongbokgung di area Jogno-gu kami memutuskan untuk berpindah ke area lain yaitu Insa-dong untuk mencari pernak-pernik khas Korea. Dalam perjalanan itu, sebuah papan nama menarik perhatian gue. 
"Hank's Book Cafe = A Traveller bookshop" 

Secara tidak sadar, kaki gue berhenti bergerak dan terdiam di depan etalase yang terdapat banyak buku serta sticker-sticker lucu. Gue yang masih terkesima dengan betapa unik dan menarik toko buku tersebut, meminta teman-teman gue untuk tunggu sebentar dan cepat-cepat mengeluarkan kamera analog dan memfotonya. Sayang pada hari itu gue gak bisa mengunjungi toko buku itu karena jadwal  kami yang padat. Jadilah gue hanya bisa berjanji pada diri sendiri untuk kembali lagi ke sana walaupun gak tahu kapan. 
Hari-hari selanjutnya pun gue jalani dengan pertanya…